Belum ini dan belum itu
“Wedio ambek sing penak, wanio ambek sing angel” ~ konco lawas
Kesejahteraan, kata ini sering menjadi berhala baru di sisa ruang tempat sekumpulan berhala usang. Mengena ketika bercakap dengan teman lama yang selalu menunda untuk mencari pasangan hidup walaupun berkali – kali mengeluh tentang tiada nya pasangan bagi dia. Naif bagi saya bila berpendapat hal itu merupakan satu lelucon garing dalam episode rumus instant kehidupan, toh bagi teman tersebut adalah masalah yang dihadapi dengan kening berkerut untuk menunjukkan derajat keseriusan nya melakukan kontemplasi.
Jika saja sedikit membuka diri untuk berbincang lebih dalam dengan saya tanpa gengsi karena mempunyai lebih umur, mungkin ada semacam pemicu untuk melihat masalah dari beberapa sisi yang dapat dilemparkan di tengah perbincangan. Sayangnya, tidak. Toh saya bukan air hujan yang tidak bisa ber empati
.
Bila alasan sesungguhnya adalah kesejahteraan, saya bisa maklum. Karena memang kesejahteraan sudah menjadi berhala baru di hampir setiap kepala, dan di jaman yang serba jumpalitan – dan akan semakin jumpalitan ini sah untuk berpisah sembari bernyanyi..
Sorry honey
If I don’t change the pace
I can’t face another day*
Kalau itu yang menjadi ganjalan mu, kawan. Segeralah belajar untuk menjadi orang yang sejahtera. Bila kau berkata, itu mengusik nurani mu, belajarlah untuk jujur, karena selama ini yang berkuasa di otak itu adalah berhala kesejahteraan.
Sesuatu yang penak/nyaman terkadang membuat terlena dan lupa bahwa segala sesuatu yang ada ini selalu mengalir, berubah.
Penderitaan, begitu banyak penderitaan.
*lagune elton john, judule love lies bleeding.
tinggalkan komentar