There is an element of violence in most of us that has never been resolved, never been wiped away, so that we can live totally without violence. Not being able to be free of violence we have created the idea of its opposite, non-violence. Non-violence is non-fact. Violence is a fact. Non-violence does not exist, except as an idea. What exists, “what is,” is violence. It is like those people in India who say they worship the idea of non-violence, they preach about it, talk about it, copy it – they are dealing with a non-fact, non-reality, with an illusion. What is a fact is violence, major or minor, but violence. When you pursue non-violence, which is an illusion, which is not an actuality, you are cultivating time. That is, “I am violent, but I will be non-violent.” The “I will be” is time, which is the future, a future that has no reality; it is invented by thought as an opposite of violence. It is the postponement of violence that creates time. If there is an understanding and so the ending of violence, there is no psychological time.
Arsip Kategori: gerak
what’s so wonderful is that every one of these flowers has a specific relationship with the insect that pollinates it. There’s a certain orchid look exactly like a certain insect so the insect is drawn to this flower, its double, its soul mate, and wants nothing more than to make love to it. And after the insect flies off, spots another soul-mate flower and makes love to it, thus pollinating it. And neither the flower nor the insect will ever understand the significance of their lovemaking. I mean, how could they know that because of their little dance the world lives? But it does. By simply doing what they’re designed to do, something large and magnificent happens. In this sense they show us how to live – how the only barometer you have is your heart. How, when you spot your flower, you can’t let anything get in your way.
adaptation,movies.
Di sebuah resto hotel lewat tengah malam mengurai kata magis spiritual dengan banyak koma tanpa titik antara hisapan rokok seruput minum berusaha mengejar berlari satu kata aku tahu apa yang kau bicarakan.
Menutup mata ada beda walau selalu ku bilang cara kita berlainan.
Karena berbeda mengapa menuntut untuk sama.
Silahkan berjalan sendirian tanpa kawan akrabi semua apa yang ada, tidak mewah memang karena tiada guru untuk berlindung dan kemampuan adikodrati.
Tidak hebat sungguh untuk jujur menerima diri.
Bila takut yang kau takuti apa guna semua kemampuan kekanak-kanakan bertahun-tahun kau tumpuk untuk merasa berbeda.
Dangkal tak guna membuat topeng tebal ‘aku berbeda aku hebat’
Seorang teman baru berkata ‘omongan dia kok kayak nembak ke saya ya?’
Ketika sensitivitas terasah dan objektivitas tumpul mengakibatkan interaksi macet dan muncul prasangka karena tidak mengerti. Tidak guna dan bikin nyengir.
Caranya simple.
Step pertama. Hilangkan semua faktor yang dapat di kaitkan pada diri. Setidaknya minimalkan hal itu agar terbentuk imej korban. Perlahan dan amat sangat halus bujuk rayu audiens dengan kata-kata pembuat iba.
Sudah?
Step kedua. Beri label yang canggih-canggih pada obyek pelaku, ‘penindas’ ‘ego tinggi’ ‘dewa’ dan sebagainya. sebagai korban, jangan sungkan untuk melabel diri ‘tertindas’ ’selalu di kalahkan’ ‘manusia biasa’ dan sebagainya.
Sudah?
Step ketiga. Pemanis akhir dalam paket balas dendam ini adalah, kata atau kalimat yang dianggap dari otoritas tertinggi (lebih baik lagi kalau otoritas tertinggi itu adalah agama). sori gak ada contoh, silahkan cari sendiri kata dan kalimat yang sesuai dengan kepercayaan masing-masing.
Saya agak bingung membuat judul, yang benar itu prosedur operasi standard atau standard operasi prosedur atau bagaimana ya?.
Oh ya, seperti apa standard operating procedure sodara ketika balas dendam?. Maaf mengecewakan sodara, ini bukan SOP saya tetapi sodara berhak sepenuhnya untuk memodifikasi dan melakukan tweaking agar tujuan balas dendam yang ada di kepala sodara tercapai dengan sempurna, halus dan amat sangat merusak.
Hasrat di dalam untuk berbagi apa yang di lakoni.
Suatu malam ketika saya sanjo (bahasa palembang yang berarti berkunjung) ke seorang teman, dia sedang mabuk atas apa yang baru saja di pelajari dan di latih. Dengan niat mendengarkan dan mencoba memahami apa yang di utarakan olehnya saya diam dan absorb semuanya. Tawaran untuk mencoba apa yang di minum saya ambil.
Hingga satu titik.
Saya tertawa melihat orang mabuk mencoba menggeliat diatas muntahan nya, di atas hasrat untuk berbagi yang memberi justifikasi benar adalah ia.
Tambah 25% ketika engkau pesimis dan kurangi 25% ketika engkau optimis. Ambil 2.5% ketika engkau curiga dan ambil 10% ketika unjuk taringmu. Beri 2% untuk mengikatnya dan janjikan 30% untuk kesetiaannya. 50% berarti kuasa dan 25% hampir tak berdaya. Ini dunia persentase, kami berpikir persentase, berucap persentase, bertindak persentase, bermimpi persentase.
Lingkaran, bentuknya ya gitu. Ada yang imut, ada yang amit.
Sebuah undangan untuk masuk ke dalam lingkaran dengan sebuah syarat loyalitas.
Sebelum saya masuk ke dalam lingkaran mu, beri waktu sejenak kita bicara apa itu loyalitas.
Seorang wanita tanpa rumah tidur di depan sebuah ruko, berteriak dia lantang “Jangan kau soroti aku dengan cahaya lampu mobil mu!, mengapa setiap malam aku tertimpa cahaya itu?, kesengajaan ini membuat aku kesal!”
Aku diam tanpa hirau teriaknya dan ku label dia, gila.
Semudah membalik telapak tangan dan ku label dia, gila.
Merapal mantra membisik diri, gila.
Sedekat apa yang saya selalu alami, derita dan bahagia selalu silih berganti, bahkan terkadang hanya salah satu yang terjadi secara terus menerus — kadang – kadang loh ya
. Ketika bahagia selalu hadir maka derita akan menyelinap perlahan mengingatkan kita bahagia itu akan hilang.Di lain hal derita yang datang membuat saya sibuk hingga bahagia tidak menemukan celah untuk masuk
.
Berpegang erat pada apa yang menyenangkan, membuat bahagia, seringkali membuat saya melupakan satu fakta bahwa hal itu tidak kekal. Kemudian saya akan mencari bentuk bahagia dan kesenangan lagi, demikian berulang – ulang. Apakah keadaan ini membuat saya bosan? belum, karena bahagia adalah candu.
Sampeyan tahu cara menghilangkan kecanduan saya?. Monggo ditulis resepnya